Rabu, 29 Desember 2010

BAB.2 KERANGKA DASAR AKUNTANSI KEUANGAN

A. Pendahuluan
Laporan keuangan perusahaan umumnya disusun berdasarkan
prinsip prinsip akuntansi yang berterima umum untuk industri dimana
perusahaan itu dikategorikan. Prinsip prinsip akuntansi berterima umum
tersebut mencakup semua standar serta interpretasi yang dikeluarkan
oleh badan penyusun standar. Misalnya untuk perusahaan perbankan,
laporan keuangannya harus disusun sesuai dengan prinsip prinsip
akuntansi untuk industri perbankan, untuk perusahaan tambang maka
laporan keungannya harus disusun sesuai dengan prinsip prinsip
akuntansi untuk industri pertambangan. Penerapan prinsip prinsip ini
harus dilakukan agar pemakai laporan keuangan bisa membandingkan
kondisi perusahaan satu sama lainnya dalam industri yang sama
sehingga dapat menilai kelebihan dan kekurangan masing masing
perusahaan. Jika demikian maka akan memudahkan pemakai laporan
keuangan dalam membuat keputusan.
Prinsip prinsip akuntansi yang berterima umum atau sering
disebut dengan standar akuntansi keuangan tadi disusun berdasarkan
kerangka pemikiran yang berisi tentang penjelasan penjelasan atau
konsep konsep dasar mengapa dan bagaimana seharusnya laporan
keuangan dibuat dengan menetapkan kriteria kriteria tertentu agar tujuan
yang diinginkan atas penyusunan laporan keuangan dapat tercapai.
B. Pengertian dan Manfaat Kerangka Dasar
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa prinsip prinsip akuntansi
yang berterima umum yang digunakan sebagai pedoman untuk
melakukan praktek pelaporan keuangan disusun berdasarkan kerangka
pemikiran berupa konsep konsep dasar yang berhubungan dengan
laporan keuangan tersebut. Kumpulan dari konsep-konsep dasar yang
melandasai penyusunan dan penyajian laporan keuangan ini diisebut
KERANGKA DASAR
AKUNTANSI KEUANGAN
399
dengan istilah kerangka dasar akuntansi keuangan atau kerangka
konseptual akuntansi keuangan. Menurut Ikatan AkuntanIndonesia
(IAI), kerangka dasar ini disebut dengan istilah Kerangka Dasar
Penyusunan dan Penyajian Laporan Keungan yang didefinsikan
sebagai konsep konsep pemikiran yang mendasari penyusunan dan
penyajian laporan keuangan bagi para pemakai eksternal. (IAI, 2004, hal.
1)
Kerangka dasar ini diperlukan mengingat manfaatnya yaitu:
1. Kerangka dasar akan memberikan definisi yang luas mengenai
tujuan, istilah serta konsep konsep yang terdapat dalam praktek
penyusunan dan penyajian laporan keuangan saat ini. Penentuan
definisi, istilah, tujuan dan konsep dasar maka kerangka dasar dapat
memberikan penjelasan mengenai batas batas akuntansi dan
pelaporan keuangan. Dengan demikian akan memberikan kesamaan
pemahaman antara penyusun maupun pemakai dalam
menginterpretasikan laporan keuangan.
2. Kerangka dasar berguna untuk pengembangan standar baru dan
peninjauan atas standar yang pernah ada. Hal ini disebabkan oleh
lingkungan usaha yang selalu berkembang seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan
lingkungan usaha secara otomotis akan menimbulkkan berbagai jenis
transaksi baru yang memerlukan pengaturan cara melaporkan dan
menyajikannya dalam laporan keuangan.
3. Kerangka dasar juga bermanfaat untuk memilih metode yang paling
tepat untuk pelaporan aktivitas perusahaan. Hal ini disebabkan
standar untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan yang
ada menyediakan lebih dari satu pilihan pelaporan untuk transaksi
tertentu.
IAI (2007, hal. 1) menyatakan bahwa tujuan kerangka dasar
penyusunan dan penyajian laporan keuangan adalah untuk digunakan
sebagai acuan bagi:
1. Komite penyusun standar akuntansi keuangan dalam pelakasanaan
tugasnya
2. Penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah
akuntansi yang belum diatur dalam standar akuntansi keuangan
3. Auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan
keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum
4. Para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan yang disusun sesuai dengan
standar akuntansi keuangan
400
C. Tujuan Laporan Keuangan
Penetapan tujuan laporan keuangan merupakan hal yang sangat
penting sebelum laporan keuangan itu disusun dan disajikan untuk
kepentingan berbagai pihak yang membutuhkannya. Penetapan tujuan
laporan keuangan meliputi kegiatan kegiatan seperti mengidentifaksi
siapa pemakai laporan keuangan, mengidentifikasi keputusan apa saja
yang dilakukan oleh pemakai laporan keuangan dan kebutuhan
informasinya baik jenis maupun banyaknya. Dengan mengetahui tujuan
laporan keuangan akuntan dapat menentukan kriteria kriteria yang
diperlukan untuk menghasilkan cara-cara terbaik dalam melaporkan
informasi yang dicantumkan dalam laporan keuangan tersebut. Dengan
demikian laporan keuangan akan berdayaguna sebagai dasar untuk
pengambilan keputusan pemakainya.
Terdapat berbagai rumusan tujuan laporan keuangan. Menurut
FASB (1979, 16-21) tujuan pelaporan keuangan adalah untuk
menyediakan informasi:
1. yang berguna bagi mereka yang memiliki pemahaman memadai
tentang aktivitas bisnis dan ekonomi untuk membuat keputusan
investasi, serta kredit
2. yang berguna untuk investor yang ada dan yang potensial, kreditur
yang ada dan yang potensial serta pemakai lainnya dalam menilai
jumlah, waktu dan ketidakpastian arus kas masa depan
3. yang menunjukkan tentang sumber daya ekonomi, klaim terhadap
sumber daya tersebut dan perubahan di dalamnya.
Sedangkan rumusan tujuan pelaporan
keuangan sebagaimana tercantum dalam
Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian
Laporan Keuangan (IAI, 2004, hal. 4) adalah
sebagai berikut: Tujuan laporan keuangan
adalah menyediakan informasi yang
menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta
perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah
besar pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi. Informasi posisi
keuangan terutama disediakan dalam
neraca. Informasi kinerja terutama
disediakan dalam laporan laba rugi.
Informasi perubahan posisi keuangan
disajikan dalam laporan tersendiri. (IAI, 2004,
hal.4)
Tujuan laporan keuangan
adalah menyediakan
informasi yang menyangkut
posisi keuangan, kinerja,
serta perubahan posisi
keuangan suatu
perusahaan yang
bermanfaat bagi sejumlah
besar pemakai dalam
pengambilan keputusan
ekonomi.
401
D. Asumsi Dasar
Asumsi dasar menggambarkan aspek lingkungan dimana
akuntansi atau laporan keuangan itu berada. Menurut FASB terdapat
empat asumsi dasar yang mendasari struktur akuntansi yaitu: 1) entitas
ekonomi (economic entity) , kelangsungan hidup (going concern), 3) unit
moneter (monetery unit/unit of measure), dan 4) periodisitas (periodicity).
Empat asumsi dasar ini sebagaimana dalam ilustrasi 2.1.
Ilustrasi 2.1: Asumsi Dasar yang Digunakan dalam Akuntansi
Entitas Ekonomi Unit Moneter
Periodisitas Kelangsungan Hidup
Kejadian ekonomi dapat diidentifikasikan
dengan pertanggungjawaban unit
Hanya data transaksi yang pantas dinyatakan dalam
satuan uang yang harus dicantumkan dalam catatan
akuntansi dari entitas ekonomi
Umur ekonomis suatu bisnis dapat
dibagi kedalam periode waktu tertentu
Perusahaan akan menejalankan operasinya dalam waktu
yang cukup lama untuk menjaga operasinya yang sudah
berjalan saat ini
Upah dan Gaji
yang dibayarkan
Pengukuran
kepuasan pekerja
Jumlah pekerja
Persentase dari
pekerja
internasional
Masa Depan
Saat Sekarang
402
1. Asumsi Entitas Ekonomi
Asumsi ini mengandung arti bahwa perusahaan dipandang
sebagai sebuah unit usaha yang berdiri sendiri terpisah dari pemiliknya
dan dari kesatuan usaha lainnya dimana akuntansi itu berada. Artinya
akuntansi hanya akan melaporkan aktivitas ekonomis yang dialami
perusahaan itu sendiri bukan melaporkan aktivitas ekonomi pemiliknya
sehingga ada pemisahan yang jelas antara perusahaan dengan
pemilikyna. Demikian pula misalnya aktivitas dan unsur unsur
perusahaan X dapat dibedakan dengan aktivitas dan unsur unsur
perusahaan Y sehingga dimungkinkan untuk menilai atau
membandingkan kinerja kedua perusahaan tersebut untuk mengetahui
mana yang mempunyai kinerja yang lebih baik dikarenakan setiap
perusahaan akan melaporakan aktivitas usahanya sendiri sendiri.
Asumsi ini tidak hanya berlaku untuk memisahkan atau
membedakan aktivitas antar dua perusahaan, antar perusahaan dengan
pemiliknya, antar perusahaan dengan pemiliknya tetapi juga bisa
digunakan untuk memisahkan individu, sebuah departemen atau divisi
atau sebuah industri secara keseluruhan sebagai satu entitas tersendiri.
2. Asumsi Kelangsungan Hidup
Asumsi ini mengandung arti bahwa setiap perusahaan akan
memiliki umur yang panjang atau tidak akan dilikuidasi di masa yang
akan datang untuk memenuhi tujuan dan komitmen mereka, meskipun
pada kenyataannya umur perusahaan adalah tidak pasti berapa lama.
Asumsi ini berpengrauh terhadap prinsip penilaian atas pos pos laporan
keuangan misalnya aset dimana aset umumnya dinilai dengan
menggunakan prinsip biaya historis daripada menggunakan nilai likuidasi.
Asumsi ini tidak akan berlaku jika suatu entitas usaha didirikan dengan
batasan umur yang telah ditetapkan.
3. Asumsi Unit Moneter
Asumsi ini mengandung arti bahwa setiap transaksi yang terjadi
akan dicatat dengan menggunakan satuan uang (unit moneter) meskipun
dapat dicatat dengan menggunkan satuan ukuran yang lain. Misalnya jika
perusahaan membeli sebidang tanah, maka perusahaan sebetulnyan
dapat mencatat aset tersebut dengan menggunakan ukuran meter
persegi katakanlah 500 meter persegi. Tetapi perusahaan dapat pula
mencatatnya dengan menggunakan satuan ukuran yang lain yaitu
dengan satuan uang, katakanlah sebesar harga perolehannya Rp. 400
juta.
403
Penggunaan asumsi ini memungkinkan semua aset, kewajiban,
modal, pendapatan dan biaya untuk dicatat dengan satuan ukuran yang
sama atau seragam. Sedangkan satuan uang (unit moneter) yang
digunakan untuk pencatatan dan pelaporannya tergantung pada mata
uang negara dimana perusahaan itu berada. Misalnya kalau perusahaan
itu di Indonesia menggunakan rupiah, tetapi jika di Amerika
menggunakan dollar Amerika. (US dollar).
4. Asumsi Periodisitas
Asumsi ini menyatakan bahwa laporan keuangan harus disusun
dan disajikan secara periodik. Asumsi ini diterapkan karena perusahaan
dianggap beroperasi secara terus menerus dalam jangka waktu yang
tidak terbatas. Kalau ada pihak pihak yang membutuhkan informasi
mengenai posisi keuangan dan kinerja perusahaan, sebetulnya cara
yang paling akurat adalah dengan menghentikan aktivitas operasi
perusahaan tersebut dalam jangka waktu tertentu. Cara ini tentu saja
tidak mungkin dilakukan, mengingat pihak pihak yang membutuhkan
informasi tadi harus segera dipenuhi untuk membuat keputusan. Untuk
itu aktivitas ekonomi sebuah perusahaan harus dapat dipisahkan ke
dalam periode waktu yang ditetapkan batasannya, misalnya tahunan,
semesteran atau bulanan. Oleh karena itu akuntansi atau laporan
keuangan dapat disusun dan disajikan secara periodik untuk memberikan
informasi baik posisi keuangan maupun kinerja perusahaan.
Dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan (IAI, 2004, hal.6) menetapkan dua asumsi dasar yaitu:
1. Dasar Akrual
Asumsi ini mengandung arti bahwa pengaruh transaksi dan
peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau
setara kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi
serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode bersangkutan
2. Kelangsungan Usaha
Asumsi ini memiliki arti bahwa perusahaan diasumsikan akan
beroperasi terus di masa depan tanpa batasan, tidak bermaksud atau
berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala
usahanya. Jika maksud atau keinginan tersebut timbul, laporan keuangan
mungkin harus disusun dengan dasar yang berbeda dan dasar yang
digunakan harus diungkapkan.
404
E. Karakateristik Kualitatif Laporan Keuangan
Produk dari akuntansi adalah informasi kuantitaif yang bersifat
keuangan. Informasi akan mempunyai nilai kegunaan yang tinggi untuk
pengambilan keputusan jika memenuhi kriteria kualitas informasi yang
baik. Kualitas informasi akuntansi ini dikenal dengan istilah karakteristik
kualitatif laporan keuangan.
Karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat
informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakai. Terdapat
empat (4) karaktristik kualitatif pokok yaitu, 1) dapat dipahami, 2) relevan,
3) keandalan dan 4) dapat dibandingkan (IAI, 2004, hal.7)
1. Dapat Dipahami
Informasi yang terdapat dalam laporan keuangan harus mudah
dipahami oleh pemakai. Untuk menunjang pemahaman pemakai
atas laporan keuangan, pemakai harus memiliki pengetahuan yang
memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi serta
kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar.
2. Relevan
Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi
keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka
mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan,
menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka dimasa lalu.
3. Keandalan
Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang
menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakaianya
sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation) dari
yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat
disajikan.
4. Dapat dibandingkan
Agar lebih bermanfaat laporan keuangan perusahaan memiliki sifat
dapat diperbandingkan. Perbandingan dapat dilakukan antar periode
untuk mengetahui kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keungan
perusahaan. Perbandingan dapat pula dilakukan antar perusahaan
sejenis untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan
posisi keuangan secara relatif.
405
F. Unsur-unsur Laporan Keuangan
Informasi tentang posisi keuangan suatu perusahaan dapat dilihat
pada neraca sedangkan informasi tentang kinerja perusahaan dapat
dilihat pada laporan laba rugi. Untuk memahami apa yang dimaksud
dengan posisi keuangan maupun kinerja perusahaan perlu diketahui
terlebih dahulu isi atau kandungan informasi apa saja yang ada pada
kedua jenis laporan keuangan tersebut. Isi atau kandungan informasi
yang terdapat dalam laporan keuangan tersebut akan disusun
berdasarkan kriteria tertentu sehingga membentuk kelompok kelompok.
Setiap kelompok ini disebut dengan unsur unsur laporan keuangan.
Setiap kelompok diberi istilah dan definisi. Istilah istilah ini merupakan
bahasa bisnis atau jargon akuntansi. Misalnya dalam neraca terdapat tiga
kelompok besar yaitu aset, kewajiban dan ekuitas. Sedangakn di dalam
laporan laba rugi dikenal dua kelompok besar yaitu penghasilan dan
beban.
Menurut Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan (IAI, 2004, hal.12-20) ditetapkan bahwa unsur yang berkaitan
secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aset,
kewajiban dan ekuitas. Unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinerja
dalam laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban.
1. Aset
Aset adalah sumberdaya yang
dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari
peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat
ekonomi di masa depan diharapkan akan
diperoleh perusahaan. Aset digolongkan
menjadi aset lancar, aset tetap dan aset lainlain.
Aset lancar adalah kas dan aset lain yang diperkirakan dapat
dikonversi menjadi uang kas, dijual atau
dikonsumsi baik dalam jangka waktu satu tahun atau dalam siklus
operasi, mana yang lebih panjang. Aturan pada umumnya juga
menyebutkan bahwa jika suatu aset dapt diubah menjadi kas atau
digunakan untuk membayar kewajiban lancar dalam kangka waktu satu
tahun atau siklus operasi, mana yang lebih panjang maka aset itu
diklasifikasi sebagai lancar.
Aset adalah sumber-daya
yang dikuasai oleh
perusahaan sebagai akibat
dari peristiwa masa lalu dan
dari mana manfaat ekonomi
di masa depan diharapkan
akan diperoleh perusahaan.
406
Aset tetap adalah aset dimiliki tidak untuk dijual kembali,
digunakan untuk operasi perusahaan dan mempunyai manfaat ekonomis
lebih dari satu tahun atau siklus operasi normal.
Aset lain-lain adalah aset yang tidak memenuhi sifat sebagai
aset lancar dan aset tetap.
2. Kewajiban
Kewajiban merupakan utang perusahaan masa kini yang timbul
akibat dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan
mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang
mengandung manfaat ekonomi. Kewajiban digolongkan menjadi
kewajiban jangka pendek, kewajiban jangka panjang dan kewajiban lainlain.
Kewajiban jangka pendek atau
kewajiban lancar adalah kewajiban yang
diperkirakan dapat dilikuidasi atau dilunasi
dalam jangka waktu satu tahun atau kurang
baik melalui penggunaan aset lancar ataupun
dengan penciptaan kewajiban lancar lain.
Kewajiban jangka panjang adalah
kewajiban yang diperkirakan secara layak
akan dilikuidasi atau dilunasi dalam jangka
waktu lebih dari satu tahun. Kewajiban lain
lain adalah kewajiban yang tidak memenuhi sifat baik sebagai kewajiban
jangka pendek ataupun sebagai kewajiban jangka panjang.
3. Ekuitas
Ekuitas adalah hak residual atas aset
perusahaan setelah dikurangi semua
kewajiban. Ekuitas biasanya disebut juga
dengan net assets (aset bersih). Untuk
perusahaan perorangan ekuitas
mencerminkan modal yang diinvestasikan oleh pemiliknya ke dalam
perusahaan yang dia dirikan. Ekuitas untuk perusahaan persekutuan
terdiri dari modal yang ditanamkan oleh sekutu sekutu yang mendirikan
perusahaan. Modal perseroan terdiri dari saham saham yang dimiliki oleh
investor perusahaan tersebut. Sedangkan untuk koperasi ekuitas terdiri
dari simpanan anggota.
Kewajiban merupakan
utang perusahaan masa
kini yang timbul akibat dari
peristiwa masa lalu,
penyelesai-annya
diharapkan mengakibatkan
arus keluar dari sumber
daya perusahaan yang
mengandung manfaat
ekonomi.
Ekuitas adalah hak residual
atas aset perusahaan
setelah dikurangi semua
kewajiban.
407
4. Penghasilan (income)
Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama
suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan
aset atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas
yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
Penghasilan (income) meliputi:
a. Pendapatan (revenue) timbul dari
pelaksanaan aktivitas perusahaan yang
biasa dan dikenal dengan sebutan antara
lain penjualan, penghasilan jasa (fees),
bunga, dividen, royalty dan sewa
b. Keuntungan (gains) timbul dan tidak
timbul dari pelaksanaan aktivitas
perusahaan yang biasa. Keuntungan
(gains) mencerminkan kenaikan manfaat
ekonomi. Contoh pos yang timbul dalam
penghasilan aset tak lancar akibat penilaian kembali atau pelepasan
investasi.
5. Beban (expenses)
Beban (expenses) adalah
penurunan manfaat ekonomi selama suatu
periode akuntansi dalam bentuk arus keluar
atau berkurangnya aset atau terjadinya
kewajiban yang mengakibatkan penurunan
ekuitas yang tidak menyangkut pembagian
kepada penanam modal.
Beban mencakup:
a. Beban yang timbul dalam pelaksanaan
aktivitas perusahaan biasa meliputi
misalnya beban pokok penjualan, gaji, penyusutan. Beban ini
berbentuk arus keluar atau berkurangnya aset seperti kas dan setara
kas, persediaan dan aset tetap.
b. Kerugian mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang
mungkin timbul atau mungkin tidak timbul dari aktivitas perusahaan
yang biasa. Contoh misalnya kerugian akibat kebakaran, bencana
alam dan penurunan nilai aset
Beban (expenses) adalah
penurunan manfaat
ekonomi selama suatu
periode akuntansi dalam
bentuk arus keluar atau
berkurangnya aset atau
terjadinya kewajiban yang
mengakibatkan penurunan
ekuitas yang tidak
menyangkut pembagian
kepada penanam modal.
Penghasilan (income)
adalah kenaikan manfaat
ekonomi selama suatu
periode akuntansi dalam
bentuk pemasukan atau
penambahan aset atau
penurunan kewajiban yang
mengakibatkan kenaikan
ekuitas yang tidak berasal
dari kontribusi penanam
modal
408
G. Pengakuan dan Pengukuran Unsur Laporan Keuangan
Setiap transaksi yang terjadi akan dicatat dengan cara mendebit
atau mengkredit akun akun tertentu disertai dengan nilainya. Misalnya
jika perusahaan menjual barang dagangannya secara tunai senilai Rp.
200.000, maka akun yang didebit adalah kas dan akun yang dikredit
adalah penjualan dengan nilai masing masing Rp. 200.000. Akun kas
merupakan salah satu pos laporan keuangan yang masuk dalam
kelompok aset sedangkan akun penjualan merupakan salah satu pos
laporan keuangan yang masuk dalam kelompok penghasilan.
Untuk bisa menentukan akun apa yang harus didebit atau dikredit
perlu dianalisa terlebih dahulu dampak transaksi tersebut apakah
mempengaruhi unsur unsur laporan keuangan seperti aset, kewajiban,
ekuitas, pendapatan atau modal. Tentu saja penetapan unsur mana yang
dipengaruhi oleh transaksi harus didasarkan pada definisi dari masing
masing unsur serta kriteria lainnya yang ditetapkan.
Proses pencatatan ini melibatkan dua kegiatan yaitu penentuan
pos pos laporan keuangan yang dipengaruhi oleh transaksi dan
penentuan nilai untuk setiap pos tersebut. Proses penentuan pos pos ini
dikenal dengan istilah pengakuan (recognation) sedangkan proses
penentuan nilainya dikenal dengan istilah pengukuran (measurement).
Definisi pengakuan dan pengukuran menurut Kerangka Dasar
Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan adalah sebagai berikut:
Pengakuan (recognition) merupakan
proses pembentukan suatu pos yang
memenuhi definisi unsur serta kriteria
pengakuan yang dikemukakan dalam
definisi unsur unsur laporan keuangan baik
dalam neraca atau laporan laba rugi.
Pengakuan dilakukan dengan menyatakan
pos tersebut baik dalam bentuk kata kata
maupun dalam jumlah uang dan
mencantumkannya ke dalam neraca atau
laporan laba rugi. (IAI, 2004, hal.20)
Pengukuran adalah proses
penetapan jumlah uang untuk mengakui
dan memasukkan setiap unsur laporan
keuangan dalam neraca dan laporan laba
rugi (IAI, 2004, hal.23)
Pengakuan (recognition)
merupakan proses
pembentukan suatu pos
yang memenuhi definisi
unsur serta kriteria
pengakuan yang
dikemukakan dalam definisi
unsur unsur laporan
keuangan baik dalam
neraca atau laporan laba
rugi.
Pengukuran adalah proses
penetapan jumlah uang
untuk mengakui dan
memasukkan setiap unsur
laporan keuangan dalam
neraca dan laporan laba
rugi.
409
1. Pengakuan Unsur Laporan Keuangan
a. Pengakuan Aset
Aset diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa
manfaat ekonominya di masa depan diperoleh perusahaan dan aset
tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.
b. Pengakuan Kewajiban
Kewajiban diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa
pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan
dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligasi) sekarang dan jumlah
yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal.
c. Pengakuan penghasilan
Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi kalau kenaikan
manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan peningkatan
aset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan
andal.
d. Pengakuan Beban
Beban diakui dalam laporan laba rugi kalau penurunan manfaat
ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau
peningkatan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal.
Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan
langsung antara biaya yang timbul dan pos penghasilan yang diperoleh.
Proses yang biasanya disebut pengaitan biaya dengan pendapatan
(matching of cost with revenues) ini melibatkan pengakuan penghasilan
dan beban secara gabungan atau bersamaan yang dihasilkan secara
langsung atau bersama sama dari transaksi atau peristiwa lain yang
sama.
2. Pengukuran Unsur Laporan Keuangan
Berikut adalah berbagai dasar pengukuran laporan keuangan
(IAI, 2004, hal. 24)
a. Biaya Historis
Aset dicatat sebesar pengeluaran kas atau setara kas yang
dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk
memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. Kewajiban dicatat
sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban (obligation)
atau dalam keadaan tertentu (misal pajak penghasilan) dalam jumlah kas
atau setara kas yang dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam
pelaksanaan usaha normal.
410
Contoh: Misalkan PT. Cendekia Purnama membeli mesin dengan
harga beli Rp. 25.000.000,-, sedangkan untuk mempersiapkan mesin
agar dapat dioperasikan perusahaan harus mengeluarkan biaya
pemasangan Rp. 2.000.000,-. Maka mesin sebagai aset perusahaan
akan dicatat sebesar biaya perolehannya atau biaya historis yang
dikeluarkan pada saat perolehannya yang mencerminkan seluruh
pengeluaran kas yang dibayar untuk memperoleh aset (mesin) tersebut
yaitu Rp. 27.000.000,-.
b. Biaya Kini (Current Cost)
Aset dinilai dalam jumlah kas atau setara kas seharusnya bila
aset yang sama atau setara aset diperoleh sekarang. Kewajiban
dinyatakan dalam jumlah kas atau setara kas yang tidak didiskontokan
(undiscounted) yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan
kewajiban (obligation) sekarang.
Contoh: Misalkan PT Kartika Jaya memiliki kendaraan berupa
mobil Panther yang diperoleh tahun 2003 dengan harga perolehan
historisnya Rp. 150.000.000,-. Berapa nilai mobil tersebut jika
perusahaan akan mencantumkannya dalam laporan keuangan untuk
periode tahun 2007?
Jika menggunakan dasar biaya historis maka mobil akan
dilaporkan nilianya sebesar Rp. 150.000.000,-, tetapi jika menggunakan
biaya kini (current cost) nilai mobil yang dicantumkan dalam laporan
keuangan adalah sebesar kas yang seharusnya dikeluarkan saat ini
untuk mendapatkan mobil Panther yang sama kondisinya dengan mobil
Panther yang dimiliki oleh perusahaan, misalnya Rp. 105.000.000,-,
maka nilai mobil Panther PT Kartika Jaya adalah Rp. 105.000.000,-yang
mencerminkan biaya kini.
c. Nilai Realisasi / penyelesaian (realizable/settlement value)
Aset dinyatakan dalam jumlah kas (setara kas) yang dapat
diperoleh sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan normal
(orderly disposal). Kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian yaitu
jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan yang diharapkan
akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha
normal.
Contoh: Misalkan perusahaan Ceria Purnama mempunyai utang
dagang kepada pemasoknya yang akan jatuh tempo tiga bulan yang
akan datang sejak tanggal pembeliannya sebesar Rp. 250.000,-. Maka
kewajiban berupa utang dagang tersebut akan dicatat sebesar jumlah kas
yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan oleh
perusahaantiga bulan yang akan datang untuk menyelesiakan
kewajibannya yaitu sebesar Rp. 250.000,-.
411

Tidak ada komentar:

Posting Komentar